Selasa, 07 November 2017

Review Film : Wage


Berkesempatan menyaksikan film Indonesia yang diangkat dari kisah nyata, WR Soepratman merupakan hal yang sangat luar biasa. Film ini mengisahkan tentang bagaimana penciptaan lagu Indonesia Raya disaat adanya penjajahan Belanda di tanah air kita tercinta yaitu Indonesia. Tak jarang banyak orang untuk menyaksikan film ini yang kaya akan makna sejarah yang luar biasa.
Kopi Jogja

Sekitar jam setengah 6 sore kami berlima ramai-ramai janjian untuk nobar film Wage di Empire XXI. Sebelum memasuki cinema 5 kami pun berkesempatan untuk foto-foto terlebih dahulu, karena film diputar sekitar jam 18.45. Setelah puas berfoto kami pun masuk ke cinema 5 menunggu pemutaran film dimulai.
Sebelum film diputar selfi dulu bareng mas Rangga Almahendra (penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika)
Film ini bercerita tentang pemuda pribumi yang berasal dari Purworejo dengan hobi bermain biola yang mempunyai rasa nasionalisme tinggi terhadap bangsa Indonesia. WR Soepratman merupakan seorang pemuda yang cinta tanah air dan pencipta lagu Indonesia Raya. Lagu kebangsaan Indonesia ini pertama kali dikumandangkan pada saat Kongres Pemuda II bersamaan dengan pengucapan Sumpah Pemuda sekaligus sebagai simbol dan identitas bangsa Indonesia. Pada saat akan menyanyikan lagu Indonesia Raya pun mengalami pro dan kontra dalam Kongres tersebut. Pihak Belanda tidak ingin bangsa Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lirik, Belanda memberikan syarat boleh memperdengarkan lagu tersebut tetapi tanpa lirik. WR Soepratman merupakan sosok pemuda cinta tanah air dan apapun demi bangsanya akan ia lakukan. “Aku harus ikut berjuang demi kemerdekaan ini dengan lagu dan biolaku. Untuk itu, aku pun harus terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan bangsa ini”. Semangat juang yang dimiliki WR Soepratman bukan hanya menciptakan lagu Indonesia Raya saja namun ada lagu-lagu lainnya, seperti RA Kartini, Indonesia Wahai Ibuku, Dari Sabang Sampai ke Timur dan Di Timur Matahari. Lagu-lagu tersebut digubah oleh WR Soepratman untuk menggelorakan rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Selain itu WR Soepratman juga aktif dalam organisasi kepemudaan, dan menjadi jurnalis untuk menyuarakan penderitaan rakyat Indoensia selama dijajah oleh Belanda. Setelah lagu Indonesia Raya dikumandangkan pada Kongres Pemuda II, WR Soepratman menulis novel roman yang berjudul tentang Perawan Desa dalam roman tersebut berisi tentang ketidakadilan Belanda terhadap orang pribumi.
Film ini mengambil lokasi di Semarang, Klaten, Yogyakarta, Purworejo dan Magelang. Dalam pengambilah film biopik “Wage” lokasi yang dijadikan untuk shooting sangat pas, dengan bangunan peninggalan pada masa Kolonial. Jika menonton film ini benar-benar terasa masuk dalam masa Kolonial. Film ini patut sekali ditonton untuk anak-anak hingga orang tua karena dalam film ini kita bisa tahu bagaimana perjuangan WR Soepratman dalam menciptakan lagu Indonesia Raya yang sampai sekarang ini menjadi simbol dan identitas negeri kita tercinta. Semua orang wajib nonton film yang berunsur sejarah, zaman sekarang ini banyak orang yang tak mau menonton film sejarah yang disangka hanya membosankan saja namun sebenernya film sejarah sendiri kaya akan makna di dalamnya.
Jika ditanya, bagaimana perasaan anda setelah nonton film Wage ini ?
Perasaan saya sangat senang, akhirnya ada sebuah film yang menceritakan seorang komponis besar di negeri ini. Dan kita semua wajib nonton, film ini memberikan kita pembelajaran juga untuk orang-orang sekarang ini mau lebih belajar apa itu yang namanya sejarah dan menghargai pahlawan-pahlawan yang dulu telah memperjuangkan Bangsa ini merdeka hingga sampai sekarang ini.
Foto bareng mas Rendra pemeran WR Soepratman